06 Januari 2011

Sejarah Teori-teori Sosiologi

II. Sejarah Teori-teori Sosiologi

  1. Perhatian terhadap masyarakat sebelum Comte

Masa Auguste Comte dipakai sebagai patokan, oleh karena sebagaimana dinyatakan dimuka Comte yang pertama kali memakai istilah atau pengertian “sosiologi”. Dapat dikatakan bahwa sosiologi itu merupakan ilmu pengetahuan yang relatif muda karena baru berkembang sejak masanya Comte. Akan tetapi sebelum masa Comte, ada beberapa pemikir yang memberikan perhatian terhadap masyarakat manusia. Diantaranya adalah:

Menelaah masyarakat secara sistematis dengan merumuskan teori organis tentang masyarakat yang mencakup bidang kehidupan ekonomi dan sosial.

Melakukan analisis terhadap lembaga-lembaga politik di dalam masyarakat.

Mengemukakan beberapa prinsip pokok untuk menafsirkan kejadian sosial dan peristiwa dalam sejarah.

Mengemukakan mengenai bagaimana cara mempertahankan kekuasaan.

Menulis mengenai keadaan alamiah manusia yang didasari pada keinginan keinginan mekanis sehingga manusia selalu saling berkelahi (kontrak sosial).

Mengemukakan bahwa manusia pada dasarnya mempunyai hak hak azasi yang berupa hak untuk hidup, kebebasan dan hak atas banda.

Berpendapat bahwa kontrak antara pemerintah dengan yang diperintah menyebabkan tumbuhnya suatu kolektivitas yang mempunyai keinginan-keinginan sendiri, yaitu keinginan umum.

Menulis tentang manusia yang hendaknya dipelajari dalam kehidupan berkelompok.

  1. Sosiologi Auguste Comte (1798-1853)

Auguste Comte merupakan orang pertama yang menggunakan istilah sosiologi dan membedakan ruang lingkup serta isi sosiologi dari ilmu pengetahuan yang lain. Menurut Auguste Comte, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir daripada perkembangan ilmu pengetahuan

Menurut Comte, ada tiga tahap pengembangan intelektual yang masing masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Tahap-tahap itu adalah :

Suatu tahap dimana manusia menafsirkan gejala-gejala disekelilingnya secara theologis.

Manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan.

Tahap dimana manusia mulai berfikir secara ilmiah.

Selanjutnya Comte pun membedakan antara sosiologi statis dengan sosiologi dinamis. Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis, yang menjadi dasar dari adanya masyarakat. Sedangkan sosiologi dinamis merupakan teori tentang pengembangan masyarakat dalam arti pembangunan.

  1. Teori-teori Sosiologi Sesudah Comte

Beberapa mazhab yang muncul sesudah era Comte. Diantaranya adalah:

Yang pertama yaitu Edward Buckle dari Inggris (1821-1862). Karyanya History of Civilization in England (yang tidak selesai). Buckle meneruskan ajaran-ajaran sebelumnya tentang pengaruh keadaan alam terhadap masyarakat. Di dalam analisisnya, dia telah menemukan beberapa keteraturan hubungan antara keadaan alam dengan tingkah laku manusia. Misalnya, terjadinya bunuh diri adalah sebagai akibat rendahnya penghasilan, dan tinggi rendahnya pengahasilan tergantung keadaan alam. Taraf kemakmuran suatu masyarakat juga sangat tergantung pada keadaan alam di mana masyarakat hidup.

Yang pertama adalah Herbert Spencer (1820-1903). Dia menyatakan bahwa Suatu organisme akan bertambah sempurna apabila bertambah kompleks dan dengan adanya diferensiasi antara bagian-bagiannya. Hal ini berarti adanya organisasi fungsi yang lebih matang antara bagian-bagian

organisme tersebut, dan integrasi yang lebih sempurna pula. Secara Evolusioner, maka tahap organisme tersebut akan semakin sempurna sifatnya. Dengan demikian maka organisme tersebut ada kriterianya yakni kompleksitas, diferensiasi, dan integrasi. Kriteria mana akan dapat diterapkan dalam masyarakat. Evaluasi sosial dan perkembangan sosial pada dasarnya berarti bertambahnya diferensiasi dan integrasi, peningkatan pembagian kerja, dan suatu transisi dari keadaan homogen ke keadaan yang heterogen.

Ahli-ahli pemikir yang menonjol dari mazhab ini kebanyakan adalah ahli-ahli pemikir dari jerman yang sangat terpengaruh oleh ajaran-ajaran dan falsafahnya Immanuel Kant. Diantaranya adalah George Simmel (1858-1918). Menurut Simmel, elemen-elemen masyarakat mencapai kesatuan melalui bentuk-bentuk yang mengatur hubungan antara eleme-nelemen tersebut. Pelbagai lembaga di dalam masyarakat terwujud dalam bentuk superioritas, subordinasi dan konflik. Semua hubungan-hubungan sosial, keluarga, agama, peperangan, perdagangan, kelas-kelas dapat diberi karakteristik menurut salah satu bentuk diatas atau ketiga-ketiganya. Menurutnya, seseorang menjadi warga masyarakat untuk mengalami proses individualisasi dan sosialisasi. Tanpa menjadi warga masyarakat tak akan mungkin seseorang mengalami proses interaksi antara individu dengan kelompok. Dengan perkataan lain, apa yang memungkinkan masyarakat berproses adalah bahwa setiap orang mempunyai peranan yang harus dijalankannya. Maka, interaksi individu dengan kelompok hanya dapat dimengerti dalam kerangka peranan yang dilakukan oleh individu.

Yang pertama adalah Gabriel Tarde (1843-1904). Dia memulai dengan suatu dugaan atau pandangan awal bahwa gejala sosial mempunyai sifat psikologis yang terdiri dari interaksi antara jiwa-jiwa individu, dimana jiwa tersebut terdiri dari kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan. Bentuk-bentuk utama dari interaksi mental individu-individu adalah imitasi, oposisi danadaptasi atau penemuan baru. Imitasi seringkali berhadapan dengan oposisi yang menuju pada bentuk adaptasi baru. Dengan demikian mungkin terjadi perubahan sosial yang disebabkan oleh penemuan-penemuan baru. Hal ini menimbulkan imitasi, oposisi penemuan-penemuan baru, perubahan-perubahan dan seterusnya. Tarde berusaha untuk menjelaskan gejala-gejala sosial di dalam kerangka reaksi-reaksi psikis seseorang.

Pertama adalah Karl Marx (1818-1883). Marx telah mempergunakan metode-metode sejarah dan filsafat untuk membangun suatu teori tentang perubahan yang menunjukkan perkembangan masyarakat menuju suatu keadaan dimana ada keadilan sosial. Menurutnya, selama masyarakat masih terbagi atas kelas-kelas, maka pada kelas yang berkuasalah akan terhimpun segala kekuatan dan kekayaan, Hukum, filsafat, agama, dan kesenian merupakan refleksi dari status ekonomi kelas tersebut. Namun demikian, hukum-hukum perubahan berperanan dalam sejarah, sehingga keadaan tersebut dapat berubah baik melalui suatu revolusi maupun secara damai. Akan tetapi selama masih ada kelas yang berkuasa, maka tetap terjadi eksploitasi terhadap kelas yang lebih lemah. Oleh karena itu selalu timbul pertikaian antara kelas-kelas tersebut, pertikaian mana akan berakhir apabila satu-satu kelas (yaitu kelas proletar) menang, sehingga terjadilah masyarakat tanpa kelas.

Yang pertama adalah Emile Durkheim. Dalam sorotannya terhadap masyarakat, ia menaruh perhatian yang besar terhadap hukum, yang dihubungkannya dengan jenis-jenis solidaritas yang terdapat di dalam masyarakat. Menurutnya hukum adalah kaidah-kaidah yang bersanksi yang berat ringannya tergantung pada sifat pelanggaran, anggapan-anggapan serta keyakinan masyarakat tentang baik-buruknya suatu tindakan

Lalu berikutnya adalah Max Webber. Webber mempunyai latar belakang pendidikan hukum. Dia mempelajari pengaruh faktor-faktor politik, agama dan ekonomi terhadap perkembangan hukum. Menurut Weber ada empat tipe ideal hukum :

1. Hukum irasional dan materiil, yaitu dimana pembentuk undang-undang dan hakim mendasarkan keputusan-kepurtusannya sematamata pada nilai-nilai emosional tanpa menunjuk pada suatu kaidahpun.

2. Hukum irasional dan formal, yaitu dimana pembentuk undang-undang dan hakim berpedoman pada kaidah-kaidah di luar akal, oleh karena didasarkan pada wahyu atau ramalan.

3. Hukum rasional dan materiil, di mana keputusan keputusan para pembentuk undang-undang dan hakim menunjuk pada suatu kitab suci, kebijaksanaan-kebijaksaan penguasa dan ideologi.

4. Hukum rasional dan formal yaitu di mana hukum dibentuk semata-mata atas dasar konsep-konsep abstrak dari ilmu hukum.

  1. Mazhab-mazhab dan Spesialisasi dalam Sosiologi

Pitirim Sorokin didalam bukunya yang berjudul Contemporary Sociological Theories mengadakan klasifikasi mazhab-mazhab sosiologi dengan cabang-cabangnya

Social mechanics

Social physics

Social energitics

Mathematical sociology pareto

Bio-organismic branch

Racialist, hereditarist and selectionist branch

Sociological darwism and struggle for existence theories

Neo-pisitivist branch

Durkheim’s branch

Gumplowicz’s branch

Formal sociology

Economic interpretation of history

Behaviorists

Instinctivists

Instospectivists of various types

Various interpretations of social phenomena in terms of culture, religion, law, public opinion, folkways, and other “psycho-social factors”

Experimental studies, of a correlation between various psycho-social phenomena.

0 komentar:

Live Streaming

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites